banner 728x250

Fenomena Hujan Es Terjadi di Desa Tetewatu Konawe, Ini Kata Akademisi UGM

banner 120x600
banner 468x60

SUARAPASTI.COM, KONAWE – Fenomena hujan yang disertai butiran es terjadi di Desa Tetewatu, Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Selasa (27/1/2025).

 

banner 325x300

Peristiwa tersebut diketahui dari sejumlah video yang beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat butiran es jatuh bersamaan dengan hujan, membuat sejumlah warga tampak terkejut sekaligus kegirangan.

 

Beberapa warga terdengar bersorak dan merekam kejadian langka tersebut menggunakan telepon genggam mereka. Fenomena hujan es ini menjadi perhatian karena jarang terjadi di wilayah Kabupaten Konawe.

 

Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Tetewatu, Ramang, membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan hujan es terjadi dalam waktu singkat dan tidak menimbulkan kerusakan.

 

“Benar, tadi hujan disertai butiran es ,” ujar Ramang.

 

Meski demikian, pemerintah desa tetap mengimbau warga agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem yang belakangan ini terjadi di wilayah Konawe.

 

Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., mengatakan fenomena hujan es terbentuk akibat adanya pertumbuhan awan Cumulonimbus yang sangat intensif karena didukung kandungan uap air yang cukup banyak.

 

Pada saat kejadian, suhu udara di sekitar cukup rendah sehingga kristal es yang berada di awan Cumolonimbus bagian atas menyentuh permukaan yang cukup rendah suhunya namun tetap bertahan dengan bentuk kristal es atau biasa disebut hail dengan ukuran yang lebih kecil.

 

Menurut Emilya, fenomena hujan es merupakan salah satu bentuk cuaca ekstrem apabila ukuran hail yang jatuh berdiameter besar dan berat dengan ukuran 5-50 mm. “Kejadian ini pernah tercatat di beberapa kota di Indonesia, bahkan di Yogyakarta juga pernah terjadi beberapa tahun lalu,” ungkapnya melansir situs UGM.

 

Ia menjelaskan, Fenomena hail tidak memiliki pola tertentu, akan tetapi pertumbuhan awan Cb dapat diamati dengan akibat kondisi massa udara yang labil dan proses konveksi serta didukung oleh suplai air yang tinggi.

 

“Pertumbuhan awan Cumulonimbus sering terjadi di daerah kepulauan dan daerah perkotaan yang dengan dekat sumber lingkungan dengan kondisi suhu yang panas,” katanya.

 

Untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem yang saat ini kerap sering terjadi, kata Emilya, masyarakat perlu melakukan mitigasi dan adaptasi. Bentuk mitigasi bisa dengan membangun kesadaran bersama pentingnya menjaga suhu Bumi tetap tidak mengalami peningkatan secara global.

 

“Tindakan sederhana bisa dengan menanam pohon ataupun mempertahankan hutan dan bentuk penggunaan lahan alami lainnya,” katanya.

 

Selain itu, tambahnya, penting bagi masyarakat untuk siap hidup berdampingan dengan alam dikarenakan ada banyak cuaca ekstrem yang sering kali menimbulkan bencana. “Pemerintah menyiapkan mitigasi dan melakukan sosialisasi ke Masyarakat. Masyarakat melakukan aksi dan adaptasi untuk mencegah dan menghadapi bencana yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrim,” katanya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *